MENGAPA ORANG PINTER KEBLINGER ?

Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan mengapa di Indonesia banyak orang pinter keblinger. Orang pinter diatribusikan untuk kelompok orang berpendidikan. Keblinger merujuk pada perilaku percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal, seperti penggandaan uang, seks bebas untuk kemuliaan, mitos harta karun,nabi baru, dan lain sebagainya.  Kepercayaan itu nyatanya membentuk perilaku paradoks yang mengkhianati akal sehat, sehinggamembutuhkan penjelasan yang ilmiah.

Dari media kita tahu, para pengikut Dimas Kanjeng bukan orang sembarangan. Bayangkan, salah satu ‘santrinya’  menyetor uang hingga 202 M untuk digandakan. Uang sebanyak itu tentu bukan milik orang bodoh.

Marwah Daud Ibrahim yang menjadi Ketua Yayasan Dimas Kanjengjuga bukan orang asing di jagat politik Indonesia. Catatan tentangnya bisa ditemukan dimana mana, salah satu ijasahnya diraih di luar negeri, pun sejarah mencatat segepok prestasi atas namanya. Bahwa hari ini  ia percaya Indonesia bisa diselamatkan oleh dukun pengganda uang, itu soal yang perlu dijelaskan dengan tulisan ini.

Para artis pengikut Gatot Brajamusti juga orang orang berpendidikan. Mereka adalah orang orang yang ingin mengejar kemuliaan melalui guru ini. Bahwa kemudian ia percaya bahwa sejumlah ritual dianggap sebagai kehadiran malaikat ini atau itu, pastilah menjegal akal sehat Anda.

Mengapa orang pinter bisa keblinger?

Saya tidak berpretensi membaca pikiran bu Marwah, atau barisan para cantik santrinya Aa Gatot. Tulisan ini mencoba mendudukkan fenomena keblinger pada kaidah saintifik, agar fenomena dukun pengganda uang, nabi palsu, Imam mahdi, harta karun dan sejenisnya semakin disikapi secara benar oleh masyarakat.

Hampir semua orang yang secara kategorial keblinger, terutama yang saya jumpai di ruang konseling, memiliki soal yang sama, yaitu kesulitan mengendalikan emosi. Saya selalu minta kepada mereka untuk menceriterakan pengalaman emosinya sesaat sebelum peristiwa keblinger itu terjadi. Pada situasi itu pada umumnya mereka mengalami pengalaman emosi puncak, entah susah, sedih atau takut. Bahkan sebahagian mereka mengalami emosi positif, seperti gembira, bangga, atau empatik

Emosi yang memuncak, dalam perspektif fisiopsikologis berkaitan erat dengan organ di dalam otak yang disebut hypotalamus. Organ itu berfungsi seperti pemancar bagi otak. Dalam sejumlah visualisasi computasi nampak, bila individu terpapar peak emotion, organ ini menyala. Celakanya, jika pemancar ini menyala terang, ada bagian lain yang meredup. Bagian yang meredup ini disebut neo cortex, yang letaknya persis di bawah kuncung pria, atau di belakang poni wanita. Meredupnya neo cortex akan dibarengi melemahnya logika, karena organ ini mengemban fungsi berpikir dan berlogika, yang menjadikan manusia sebagaihomo saphien, makhluk yang berpikir.

Jika ada telpun yang mengabarkan Anda mendapat hadiah mobil,bisa saja Anda sangat senang, atau bisa juga biasa-biasa saja. Jika Anda ditelpun bahwa suami/istri berada di ruang ICU RS tertentu, Anda  boleh memilih untuk gusar , khawatir atau biasa biasa saja. Penyikapan emosional terhadap fenomena semacam inilah yang sering membuat seseorang kehilangan kewaspadaan. Dalam kondisi seperti itu hypotalamus menyala terang dan neo cortex meredup, dan akal sehat hilang. Dari sinilah perilaku keblinger dimulai.

 

Tombol Anti Keblinger

Rumusya jelas, jika emosi individu memuncak, logika tercekat. Solusinya tidak ada lain kecuali tetap memberikan ruang kesadaran ketika kita terpapar sebuah situasi emosional. Betapapun berat atau menggembirakannya sebuah situasi, sisakan ruang sempit untuk kesadaran kita. Jika sedih janganlah sedih sekali, jika bahagia juga jangan gembira sekali. Membiarkan emosi memuncak hanya akan meniadakan logika kita.

Dalam khasanah spiritual, kita berkali kali diingatkan untuk tetapeling dan waspada betapapun situasi membawa kita ke suasana haru biru. Eling dan waspada adalah cara kita menghindarkan diri dari situasi kabondhotan nafsu. Eling lan waspada itu terkait langsung dengan attitude kita manusia, supaya tidak gumunan(heran), tidak kagetan(kaget), dan tidak  aleman(bombongan).Tiga sikap inilah yang rentan menjadikan individu mengalami emosi puncak dan kehilangan logika, sehingga hidupnya keblinger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *