Posted by budisarw | Published on 21 May 2008

Forgiveness Therapy

Oleh: R Budi Sarwono

 

Saya sungguh menghayati bahwa pengampunan merupakan sebuah proses therapy. Pengertian itu pertama kali ditancapkan di benak daya oleh Calvin D Banyan dedengkot hypnosis dari   California Hypnosis Center USA.

 

Menarik, mengapa mengampuni bisa menjadi therapy? Ternyata  rumusnya sangat sederhana. Dengan mengampuni kita menghapus  kemarahan kepada orang lain. Seperti menggosokkan karet penghapus di atas kertas, untuk membersihkan coretan yang salah dalam hidup kita. Ketika menggosokkan karet penghapus, pikiran kita tertuju pada lembar tulisan yang diharapkan kembali menjadi  putih bersih, bukan kepada orang yang menyebabkan terjadinya coretan. 

 

Semua kemarahan yang direpresi akan menjadi noda dalam lembaran hidup kita. Dengan ditekan, kemarahan  bukannya hilang, tetapi dia menempati ruang tertentu dalam pikiran bawah sadar kita. Selanjutnya ia akan mewarnai seluruh hidup kita. Disukai atau tidak sesuatu yang kelewat kita taruh di dalam pikiran bawah sadar, akan mempengaruhi cara hidup kita, baik itu ditaruh dengan penuh kesengajaan, maupun by accident. Kemarahan yang direpresi akan menjadi sebutir biji cabai yang kita letakkan di dalam pikiran kita. Maka apapun yang diucapkan oleh orang yang suka memendam kemarahan sering kali berasa pedas dan panas.  

 

Silahkan marah

 

Untuk menghindarkan pikiran kita dari sebutir biji cabai yang bisa memancarkan cita rasa perasaan kita, mau tidak mau kita harus pandai marah. “Pandai marah” berbeda  dengan kerap marah, suka marah, atau hoby marah.  Pandai marah berarti bisa mengelola kemarahan.

 

Semuan perasan itu baik. Seperti control panel di dashboard mobil kita yang menyala ketika ada seauatu yang tidak beres dalam mobil kita. Lampu dashboard itu diciptakan untuk maksud  yang baik. Itulah perasaan kita.  Ia akan memberikan tanda kepada kita untuk segera memenuhi kebutuhan kita yang belum terpenuhi.

 

Kemarahan muncul manakala perasaan kita menangkap sinyal adanya ketidak adilan terhadap kita.  Tugas kita sebagai “pengendara” adalah mencari tahu apakah persepsi kita tentang ketidak adilan itu benar. Kadang kadang kita memiliki persepsi yang salah tentang ketidak adilan itu. Apabila kemarahan didasarkan pada persepsi tentang keadilan yang salah, maka kita akan manjadi makhluk konyol. Bila hal itu berulang ulang dan menjadi kebiasaan, maka kita akan menjadi mklhuk yang mengerikan. Sebaliknya kalau kita marah atas persepsi tentang keadilan yang benar, maka kemarahan kita akan menjadi sesuatu yang menyehatkan mental kita.  Dalam kondisi itu silahkan Anda marah.

 

 

 

 

Memaafkan Pasangan

 

Tidak semua sikap memaafkan dapat menjadi therapy. Hanya cara memaafkan tertentu saja yang  bisa mengangkat biji cabai dari dalam pikiran kita. Yaitu cara memaafkan yang dibarengi dengan perubahan dalam berperasaan, membuat bingkai perasaan yang baru terhadap sesuatu yang telah terjadi.  Memaafkan sebagai therapy adalah sebuah upaya yang cerdas, ia bukan berarti melupakan. Karena melupakan bukanlah tindakan yang cerdas.  Dengan memaafkan  tidak berarti kita  menyukai kejadian yang telah menyakiti Anda

 

Kita  diajarkan untuk saling memaafkan. Utamanya adalah memaafkan pasangannya. Bila kita sudah terbiasa memaafkan pasangan, dengan mudah kita mendiversivkasikan permaafan ini kepada siapapun juga, termasuk kepada anak anak, orang tua, saudara, tetangga dan lain sebagainya.

 

Mengampuni lebih merupakan sebuah inisiasi. Dimana pasangan suami istri saling berhadapan , satu pihak memohon pengampunan , pihak yang lain memberikan pengampunan. Waspadalah, dalam proses ini ada pihak superior dan ada pihak inferior. Ketika posisi superior dan inferior ini jarang bertukar tempat, dikhawatirkan terjadi degradasi kesejajaran. Pihak yang selalu menempatkan diri sebagai inferior akan terus merasa terjajah. Sedang dia yang selalu menempatkan diri di pihak superior perasaannya semakin tumpul, sikapnya seperti penguasa koloni. 

 

Pengampunan dalam hidup berumah tangga mengandaikan kesediaan untuk menggenggam skor yang sama, agar tidak terjadi penjajahan satu atas yang lain. Proses ini lepas dari kuasa jender, karena untuk mengampuni tidak dibutuhkan kualitas jender. Laki laki dan perempuan memiliki kualitas yang sama dalam pengampunan.

 

Memaafkan Diri Sendiri

 

Namun, bagian memaafkan yang paling sulit dilakukan adalah memaafkan diri sendiri. Kadang kadang kita terjebak pada sebuah perasaan bersalah (guilty) dalam hidup kita. Celakanya lagi kalau sosok yang membuat kita merasa bersalah sudah tiada. Peristiwa semacam ini sering membawa kita ke perasaan ngugun yang berkepanjangan. Dalam kondisi ini seseorang membutuhkan suatu “keadaan” dimana secara imaginer dia merasa telah dimaafkan oleh orang yang bersangkutan. Inilah yang disebut forgiveness therapy.

 

Forgiveness Therapy merupakan teknologi pengelolaan perasaan bersalah, bukan peristiwa maaf memaafkan seperti di Hari Raya Idul Fitri. Forgiveness Therapy bukan sebuah proses sosial, tetapi sebuah proses batin. Dalam banyak kasus forgiveness therapy dilakukan secara imaginer.

 

Dari puluhan  therapy yang kami lakukan terhadap orang yang mengalami over weight, ternyata sebagian besar dipicu oleh perasaan marah yang direpresi.  Pada awalnya terasa lucu, masak ada hubungannya antara kemarahan dengan pola makan? Eh ternyata betul, makan adalah suatu cara yang oleh mereka dikira dapat menyelesaikan persoalan. Ternyata tidak. Padahal keputusan makan sudah  berubah menjadi kebiasaan makan. Sampai di situ mereka tidak lagi bisa mengendalikan diri lagi.

 

Ketika kami diundang ke sebuah kota di pantai selatan Jawa Tengah, kami menemukan belasan orang yang kesulitan untuk duduk di kursi ukuran standard. Apa sebabnya, karena ukuran bokong mereka jauh di atas rata rata. Mereka adalah penderita over weight akut. Sebagian besar dari mereka memiliki luka batin yang berasal dari keluarga dekatnya (Ayah, suami, paman) Yang lain mengalami parasan bersalah terhadap orang lain. Pada umumnya mereka mengalami abreaction (mengangis, meraung) ketika menjalani forgiveness therapy. Setelah mereka memaafkan orang lain dan diri sendiri, perasaan menjadi lega. Perilaku merusak pola makan sedikit demi sedikit diperbaiki. Ada yang berubah dalam diri mereka.

 

 

 

R. Budi Sarwono

Tinggal di Ambarawa Jawa Tengah

www.hypnotis.net

budisarwono@hypnotis.net

Filled Under: quntaum

Leave a Reply