Posted by budisarw | Published on 22 May 2008
Matikan dulu TV nya nak!!
ketika itu hari minggu, hari yang selalu saya habiskan bersama keluarga, setelah satu minggu terbenam dalam kesibukan kerja. ngobrol sambil tidur tiduran, atau memasak dengan anak anak adalah sebagian kegiatan yang sangat menyenangkan.
syahdan, ketika saya dan suami duduk duduk di teras rumah, mencoba menikmati sisa hari minggu yang tinggal sejengkal, terjadilah peristiwa itu. ceritera ini sebetulnya teramat sederhana, terlampau umum, bahkan bagi sebagian orang terlampau cengeng, melankolis. biarlah, saya berbicara dengan bahasa perempuan saja yang secara psikhologis memang dilekati oleh karakter semacam itu.
anak kami yang masih sekolah di tk, dengan lafal yang masih cedal, begitu fasihnya menyanyikan lagu berjudul cocak rawa . lagu itu dinyanyikannya dengan runtut, tepat, dan presisi dengan urut urutan seperti sang artis menyanyikannya. saya terhenyak, kaget. tiba tiba saya merasa tidak mengenal anak anak saya. mereka tumbuh liar di luar pengawasan saya. meraka adalah pribadi pribadi yang lain dari yang saya bayangkan. sementara suami saya terbahak bahak, semacam ada kebanggaan atas “kemajuan” anak kami. saya hanya bergumam, “ah, dasar laki laki !”
maaf, mungkin tidak semua laki laki seperti itu. tetapi pada umumnya mereka bangga dengan kemajuan intelektualitas generasi penerusnya. tetapi mereka lupa bahwa kemajuan semacam itu dibarengi dengan kemunduran di bidang tertentu. celakanya, bahwa bidang itu adalah sesuatu yang elementer, yaitu moral. dan umumnya (diakui atau tidak) perempuan lebih jeli mengamati hal ini. moral ? apa hubungan cocak rawa dengan moral ? mari kita simak syair ini :
kucoba coba melempar manggis
manggis kulempar mangga kudapat
kucoba coba melamar gadis
gadis kulamar janda kudapat
iki piye 3x
wong tuwa rabi perawan
prawane yen bengi nagis wae
amargo wedi karo manuke
manuke manuke cocak rawa
cocak rawa dawa buntute
buntutte sing akeh wulune
yen digoyang ser… ser.. aduh enake
sidang pembaca, mari kita merenung sejenak (sebelumnya bagi yang tidak paham bahasa jawa, agar minta bantuan rekan disebelahnya untuk memahami teks itu). pertama, seperti lagu lagu pada umumnya, teks itu memuat makna tersurat maupun tersirat. dari yang tersurat, teks itu tidak mencerminkan logika berfikir yang benar. cara berpikir yang melompat lompat dan tidak konsisten, subyek yang berubah ubah, kata kata bersayap, dan banyak hal bisa anda temukan disana. kalau struktur berfikir semacam itu banyak melekat dalam memori anak anak kita, pantaskah disebut sebagai simbul kemajuan intelektual, atau sebaliknya ? maka saya merasa pantas berseru kepada kaum lelaki, janganlah merasa bangga ketika anak anda bisa menghafal banyak lagu dan iklan tv, karena lagu dan iklan belum tentu dibangun dalam logika yang benar. karena kepentingan mereka adalah pasar, yang kadang kadang harus mengorbankan banyak hal, termasuk didalamnya adalah moral dan logika generasi kita.
kedua, mungkin anda sepakat, kalau saya mengatakan lagu itu terlampau fulgar menggambarkan kehidupan ranjang orang dewasa. pilihan kata yang dipakai seperti; manuk (burung), wulu (bulu), kemudian didekatkan dengan kata; perawan, nangis, digoyang, enak, dlsb, mau tidak mau membawa asosiasi kepada kehidupan ranjang manusia dewasa. pertanyaan saya, mampukah anak anak kita menterjemahkan semua itu, atau sebaliknya, teks itu menyisakan seribu tanda tanya di dalam benak mereka? kalau itu yang terjadi, dari dimanakah mereka akan mendapatkan jawabannya? mampukah anda menyediakan semua jawaban itu ?
ketiadaan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak anak anak kita, kemudian akan mendekatkan mereka dengan berbagai persoalan moral. mereka akan mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri dengan berbagai macam cara. cara cara mereka mencari jawaban inilah yang acap kali menjerumuskan mereka dalam perilaku di luar garis ( atau dalam bahasa kerennya out of track kali ya…). kemudian orang akan menandainya sebagai sebuah penyimpangan moral. mereka lupa pada asal usulnya, bahwa dalam konteks semacam ini, orang tualah yang sebenarnya telah melakukan kelalaian paling besar.
cocak rawa hanyalah salah satu dari ribuan teks yang barangkali terlanjur melekat dalam benak anak anak kita. iklan iklan di televisi banyak yang diproduksi tidak menggunakan dalil berfikir yang benar, karena mereka di setir oleh pasar. celakanya, anak anak kita sudah kelewat menghafalnya, bahkan di luar kepala. idiom idiom borjuis yang digunakan sebagai bahasa iklan seperti; dapatkan sekarang juga, raihlah prestasi gemilang, buruan selagi ada , cerminan pribadi anda, dlsb, adalah idiom yang bisa menjerumuskan generasi kita pada sikap borjuis yang penuh dengan ketergesaan dan menisbikan pola berfikir kritis.
yang menarik adalah, hafalan hafalan semacam itu ternyata banyak diperoleh anak anak dari hasil menonton tv. saya jadi mahfum, tv adalah media yang melayani dua indera audiens sekaligus, ya matanya, ya telinganya. maka sesuatu yang ditayangkan di tv lebih mudah melekat dalam ingatan siapapun. namun melihat materi tayangan televisi di indonesia, saya jadi ngeri. coba bayangkan, setiap hari anak anak kita dibanjiri dengan sajian lagu yang tidak bermutu, iklan iklan borjuis, opera sabun yang ceriteranya kepleset terus, presenter yang kualitas jendernya tidak jelas, setan yang jadi selebritis, panggungnya pak polisi ketika nangkap maling, berita berita yang tidak tuntas, dan sebagainya. maka jangan heran, kalau anda datang ke rumah saya di hari sabtu dan minggu, anda akan kerap kali mendengar suara yang dalam satu hari bisa terdengar berulang kali; “ matikan dulu tv-nya nak”!
M.tinuk–with Love

crysna
November 9th, 2009 at 8:31 am
memang moral penerus kita telah dirusak oleh kemajuan teknologi. semoga semua dari kita tidak terlena oleh buaian tontonan yang dapat merusak mental dan iman anak2 kita. Terima kasih atas tulisannya. sangat mengingatkan bagi kaum ibu untuk lebih berhati2 mendampingi putra-putrinya.
online
December 30th, 2009 at 10:21 am
sangat menarik, terima kasih
budisarw
May 12th, 2010 at 8:36 am
Ibu Crysna: Terimakasih sudah berkunjung. Peran kita sebagai orang tua benar benar berubah pada era teknologi komunikasi ini. Kita juga butuh upgrade kan Ibu?
budisarw
May 12th, 2010 at 8:36 am
Online: Terimakasih sudah berkunjung