Posted by budisarw | Published on 21 May 2008
Othokowok
Ketika sekelompok seniman Jathilan mengalami trance, sang Sinden melagukan tembang rancak berjudul Othokowok. Para musisinyapun memukul perkusinya bertalu talu, juga dalam irama rancak. Para seniman yang sedang kehilangan akal sehat itupun lebih dalam terhypnotis, megal megol larut dalam hingar bingar budaya othokowok itu.
Othokowok, othokowok mbang juwawut
Othokowok, othokowok mbang juwawut
Bola bali mbang juwawut……..
Apa sebenarnya yang terjadi dengan fenomena budaya itu? Seseorang yang mengalam trance (jawa:ndadi), ia berada dalam hypnosis state. Dimana gelombang pikirannya ada dalam posisi Alpha atau Tetha. Kalau diukur dengan Electroencepalograph (EEG), gelombang pikirannya ada pada angka 4 – 12 Cps (Circle per second) Dalam konsisi itu pikiran berubah menjadi sangat sugestif. Mau menerima apapun yang disugestikan ke pikiran bawah sadarnya.
Setelah memperdalam ilmu hypnosis di Banyan Hypnosis Center California, saya tertegun menyaksikan budaya itu. Dulu saya anggota kelompok kesenian Jathilan Turangga Muda di Borobudur. Saya ingat persis bagaimana suasana ketika Othokowok dilantunkan.
Dengan tulisan ini saya ingin memberikan wacana yang lebih psikhologis kepada para koreografer Jathilan, Reog, Kubro Siswo, Kuntulan, Ebeg dan semua produk kesenian yang mengandung unsure trance (ndadi). Bahwa, dalam kondisi trance, yang bersimaharaja dalam diri seseorang bukanlah setan bin demit. Tapi dia adalah pikiran bawah sadar kita sendiri. Disebut pikiran bawah sadar, karena memang tidak semua yang ada disana disadari oleh kita. Dia adalah gudang ingatan (long term memory), tumpukan pengertian tentang ilok dan orailok, boleh tidak boleh, baik dan buruk ( believe system), gambaran diri (self image) dan hal hal lain yang membentuk kepribadian kita.
Yang lebih penting lagi, bahwa dalam kondisi trance, apapun yang kita sugestikan ke dalam pikirannya, sejauh tidak bertentangn dengan believe systemnya, akan diterima dengan gampang.
Persoalan akan muncul manakala seseorang mengalami trance, yang disugestikan ke dalam pikirannya adalah lagu Othokowok, Bojo loro, Mendem wedokan, Paman Doblang (yang mabuk), Ndang Balio Sri, Tali Kotang dan senggakan senggakan yang berbau porno.
Inilah yang kemudian saya sebut sebagai kebudayaan yang menjerumuskan. Saat ini saya masih mengamati, mereka yang masih “mengimani” tembang Othokowok, dan selalu menancapkan lebih jauh dalam kondisi trance, pembawaanya juga masih tetap Othokowok dan saya yakin akan teap menjadi Othokowok. Karena apa yang kita pikirkan itulah yang akan menjadi kenyataan dalam dunia empiris kita.
Coba amati tayangan Hypnotis di televisi. Apapun yang disugestikan oleh si Juru Hypnosis ke dalam pikiran bawah sadar suyet (subyek Hypnosis), itulah yang terjadi dalam kenyataan empiris mereka. Kalau dalam pikirannya dia lupa nama, maka organ organ tubuh yang digunakan untuk menyebutkan namanya tiba tiba macet. Begitu juga dalam hidup ini, kalau kita mensugestikan terus menerus bahawa saya akan gagal, maka organ organ tubuh yang bisa menunjang keberhasilan tertutup dan macet. Sebaliknya kalau kita terus menerus mensugestikan ke pikiran bawah sadar kita bahwa kita ini sukses. Maka organ organ kesusksesan akan bekerja untuk mewujudkannya. Lha kalau terus menerus kita mensugestikan bahwa kita ini Othokowok, Anda tahu hasilnya….
R. Budi Sarwono
Master Hypnosis

santo
February 15th, 2009 at 11:11 am
betul,Bosss,kini othokowoknya sinetron dan acara2 gossip di tv- penonton ampe bisa lupa segalanya terseponaaa bahayaaa tennen generasi depaaan kiteee-aih-!
budisarw
May 12th, 2010 at 8:38 am
Pak Santo: Terimakasih sudah berkunjung