Posted by budisarw | Published on 21 May 2008

Bagaimana memanfaatkan HF untuk mencapai intimitas relasi suami istri

Beberapa orang teman yang ketemu di kelas HF di Surabaya sempat bertanya kepada saya, mengapa Anda  mengikuti HF sampai dua kali? Pertanyaan kedua, Mengapa Anda selalu mengikuti HF bersama istri Anda?  Kedua pertanyaan itu saya hadirkan disini karena terkait satu dengan yang lain.

 

Dengan forum ini saya ingin memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keikut sertaan kami yang selalu berdua dengan pasangan. Sekaligus barangkali sharing ini berguna bagi Anda yang ingin menerapkan metode releasing yang diajarkan Mas Nunu untuk kehidupan keluarga Anda. Karena di kelas HF kita ada beberapa pasutri, maka tulisan ini bermaksud untuk memancing pasutri yang lain bergabung dalam diskursus ini.

 

Dari HF yang pertama saya paham, bahwa ada proses releasing bagi resistance yang bercokol dalam hati kita. Karena merupakan pengalaman pertama, kami masih gagap. Kami juga tidak seberapa paham  dalam  memilah pilah hal hal yang bisa di release. Setelah selesai HF, kami berdua mencoba menginventarisasi hal hal yang mungkin di release dengan cara itu. Ternyata ada banyak  hal dalam hidup berkeluarga yang bisa di release. Celakanya, saking sibuknya menginventarisasi hal hal yang bisa di release, ketika hendak melakukan proses releasing beneran, kami sudah agak lupa caranya. Jadilah kami mengikut HF yang kedua kali. Proses NGEH terjadi pada HF yang kedua itu.

 

Setalah mengikuti HF yang kedua, saya sering melamun tentang masa kami pacaran. Pada saat itu semuanya menyenangkan. Tidak ada yang cacat dari pasangan saya. Karena saya menerima dia apa adanya. Pokoknya semua indah. Dalam perjalanan perkawinan kami, satu persatu masalah muncul. Beberapa hal yang dulu terasa menyenangkan,  sekarang sering membuat uring uringan. Hal hal yang dulunya kami anggap sebagai bumbu cinta, sekarang menjadi sumber bencana. Karena saya, sekarang, mencintai dia dengan tidak apa adanya. Artinya, kalau kondisinya sesuai dengan harapan saya, maka saya akan mencintai dia. Dan hal itu  tidak berlaku sebaliknya.

 

Sejurus dengan permasalah yang muncul di keluarga kami, pelan pelan saya mulai suka membuat  “daftar keburukan” pasangan saya di dalam hati. Apapun yang dilakukan dan tidak berkenan dihati, saya tambahkan dalam daftar keburukan dia. Semakin panjang daftar itu, semakin kuat napsu saya untuk mengubah pasangan saya.  Semakin kuat napsu saya untuk mengubahnya, justru terjadi stagnasi. Ternyata napsu yang besar untuk mengubah orang lain hanya akan melahirkan rasa frustrasi.

 

 

Setelah terbiasa dengan perilaku mencari dosa pasangan, ternyata muncul sikap yang agak aneh. Di hati yang paling dalam, saya menginginkan pasangan saya mengulang “perilaku buruk” seperti dalam daftar imaginer saya, hanya supaya saya bisa mengatakan “Lho, bener khan, kamu memang seperti itu?!”. Kalau saya sudah berhasil mengatakan hal itu, maka hati saya puas bukan main, dan keinginan untuk mengubah perilaku itu semaikin kuat. Maka, makin lama, daftar keburukan pasangan saya itu semakin tebal tercatat dalam hati saya. Setelah daftar itu menjadi tebal dan panjang maka mereka mengelompokkan diri menjadi beberapa kategori. Ada yang menyebut diri mental block, concept of limitations, prasangka dan lain lain. Pokoknya semuanya pake bahasa inggris. Dan ternyata semua itu hidup subur dalam pikiran dan hati saya.

 

Setelah saya renungkan, ternyata itulah yang dalam pelajaran HF disebut resistance yang mengganggu terwujudnya intimitas relasi kami. Dulu ketika kami pacaran dengan mudah kami melihat kebaikan kebaikan pasangan sehingga kami bahagia. Berjalan seiring waktu, saya menciptakan sendiri resistensi untuk mencintai pasangan saya apa adanya. Itulah yang mesti di bakar (burning)  dengan proses releasing yang Mas Nunu ajarkan.

 

Setelah membiasakan diri dengan proses itu, saya menjadi lebih mudah merasa bahagia ketika menjalani relasi dengan pasangan saya. Pun pula masalah masalah keluarga sangat berkurang, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Saya jadi ingat LoA (Law of Attraction). Ternyata masalah masalah yang timbul selama ini karena sengaja saya attrack,hanya untuk sekedar memunculkan rasa puas setelah mengatakan “ Lho bener khan, kamu memang seperti itu” . Anehnya lagi, ketika saya sharingkan dengan sahabat sahabat saya di Semarang, hampir semua mengaku melakukan apa yang saya lakukan itu. Bahkan banyak diantara mereka yang tidak tahu bagaimana cara mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Nah bagaimana Anda?

 

 

With Love

Budi-Tinuk

Semarang

Filled Under: quntaum

2 Responses to “Bagaimana memanfaatkan HF untuk mencapai intimitas relasi suami istri”

  1. alhamdillilaaaah-berbahagialah anda yg udah menemukakn kebahagiaan masa llalu via way out itu–tak semua niat en bisa lhooo

  2. Pak Santo: Terimakasih telah berkunjung

Leave a Reply